Perasaan ingin membunuh, begitu besar.
Dimanakah saya bisa mendapatkan pistol semi otomatis?
Parah yah? Perasaan ini begitu bergejolak dalam diri saya sekarang ini. Maaf, jika tulisan kali ini akan BERBEDA dengan segala hal yang harmonis dan manis. Ini adalah salah satu tulisan ‘hitam’ yang akan saya tuliskan. Sebuah curahan yang harus dikeluarkan agar jiwa ini menjadi lebih tenang.
Saya KESAL dengan segala hal yang terjadi belakangan ini. Semuanya tampak salah. Bahkan seharusnya tulisan ini tidak perlu dibuat. Tapi, saya sedang MURKA. Lebih baik semua orang TOLOL dan PENAKUT, hilang dari Bumi ini. Agar tidak terjadi lagi banyak kebodohan di dunia.
Saya tidak takut mati.
Sudah 2 peristiwa, jambret dan penodongan, saya hadapi. Hanya bermodalkan keberanian.
Peristiwa jambret terjadi di salah satu jalan cukup ramai di daerah Menteng, Jakarta. Sebuah kawasan elit, dekat sekolah pria Canisius. Entah mengapa, seperti layaknya seorang jago kung fu, yang dapat merasakan hawa takbersahabat dibelakang. Membuat saya menengok kebelakang, dan menjadi lebih waspada.
Setelah pulsa terisi dan saya duduk di pinggir jalan. Baru terasa. Seluruh tubuh saya bergetar hebat. Adrenalin yang terpendam kembali memacu. Sambil menelpon saya pun bergetar. Orangorang terdekat tidak ada yang bisa membantu atau menolong saya.
Saya sedih.
Dengan berat hati saya memberitahukan pasangan saya, apa yang terjadi. Dan memintanya untuk menelpon salah satu temannya yang saya tau bekerja dekat disitu. Tuhan baik sekali. Saat itu, dia adalah malaikat pelindung saya. Menemani dan memberikan uang untuk ongkos pulang.
Dimanakah saya bisa mendapatkan pistol semi otomatis?
Parah yah? Perasaan ini begitu bergejolak dalam diri saya sekarang ini. Maaf, jika tulisan kali ini akan BERBEDA dengan segala hal yang harmonis dan manis. Ini adalah salah satu tulisan ‘hitam’ yang akan saya tuliskan. Sebuah curahan yang harus dikeluarkan agar jiwa ini menjadi lebih tenang.
Saya KESAL dengan segala hal yang terjadi belakangan ini. Semuanya tampak salah. Bahkan seharusnya tulisan ini tidak perlu dibuat. Tapi, saya sedang MURKA. Lebih baik semua orang TOLOL dan PENAKUT, hilang dari Bumi ini. Agar tidak terjadi lagi banyak kebodohan di dunia.
Saya tidak takut mati.
Sudah 2 peristiwa, jambret dan penodongan, saya hadapi. Hanya bermodalkan keberanian.
Peristiwa jambret terjadi di salah satu jalan cukup ramai di daerah Menteng, Jakarta. Sebuah kawasan elit, dekat sekolah pria Canisius. Entah mengapa, seperti layaknya seorang jago kung fu, yang dapat merasakan hawa takbersahabat dibelakang. Membuat saya menengok kebelakang, dan menjadi lebih waspada.
Tibatiba, orang tersebut menarik tas saya, kuat sekali.
Maka, terjadilah adegan tarik menarik ditengah jalan tersebut, seperti pemain tarik tambang.
Karena hal ini sudah saya antisipasi, maka pada saat dia menarik tas saya. Dia tidak mendapatkannya dengan mudah. Saya MELAWAN!
Beberapa orang bengong. Saya hanya mampu berteriak ‘ANJING LEPAS!’ dan kembali berteriak. Karena dia tidak berhasil menarik tas saya, tanpa membuat diri saya ikut tertarik. Dia melepaskan tarikannya dan hilang entah kemana.
Setelah itu baru terdengar orang berteriak, ‘RAMPOK, RAMPOK!’
Sudah telat, bukan?
Saya hanya berharap ada teman saya yang lewat, dan memberikan tumpangan. Tapi, tenyata saya hanya mampu berjalan. Setelah itu memerika uang yang hanya tinggal sepuluh ribu lebih sedikit. 'Akh, tapi mampu untuk membeli pulsa isi ulang' pikir saya. Saat itu, hanya itu yang terpikir. Berusaha untuk menghubungi siapa saja yang terdekat.
Beberapa orang bengong. Saya hanya mampu berteriak ‘ANJING LEPAS!’ dan kembali berteriak. Karena dia tidak berhasil menarik tas saya, tanpa membuat diri saya ikut tertarik. Dia melepaskan tarikannya dan hilang entah kemana.
Setelah itu baru terdengar orang berteriak, ‘RAMPOK, RAMPOK!’
Sudah telat, bukan?
Saya hanya berharap ada teman saya yang lewat, dan memberikan tumpangan. Tapi, tenyata saya hanya mampu berjalan. Setelah itu memerika uang yang hanya tinggal sepuluh ribu lebih sedikit. 'Akh, tapi mampu untuk membeli pulsa isi ulang' pikir saya. Saat itu, hanya itu yang terpikir. Berusaha untuk menghubungi siapa saja yang terdekat.
Setelah pulsa terisi dan saya duduk di pinggir jalan. Baru terasa. Seluruh tubuh saya bergetar hebat. Adrenalin yang terpendam kembali memacu. Sambil menelpon saya pun bergetar. Orangorang terdekat tidak ada yang bisa membantu atau menolong saya.
Saya sedih.
Dengan berat hati saya memberitahukan pasangan saya, apa yang terjadi. Dan memintanya untuk menelpon salah satu temannya yang saya tau bekerja dekat disitu. Tuhan baik sekali. Saat itu, dia adalah malaikat pelindung saya. Menemani dan memberikan uang untuk ongkos pulang.
*Thanks, 'Ndu. Ntar beneran gw cariin cw deh, tapi beresin dulu tuh gigi loe :p*
Sekarang setiap kali saya lewat dan melihat tempat itu, saya tersenyum.
Tau apa yang tertulis diatas tempat saya menunggu kawan saya tadi?
TOKO HARAPAN
Ya! Toko itu memberi saya harapan. Bahwa akan ada seseorang yang saya kenal dan baik hati menjemput dan menenangkan getaran kekesalan saya atas peristiwa yang baru saja saya alami.
Kemarin, sepulang lembur dari kantor. Saya kembali ditodong. Dekat wilayah rumah saya. Seperti biasa saya tidak takut menghadapi ancaman penodong tolol tersebut. Sopir Bajaj yang bodoh dan penakut juga membuat saya kesal setengah mati. Saya sudah teriakteriak menyuruh dia tetap terus berjalan pada saat motor mepet dan menghentikan Bajaj. Malah dia berhenti dan mematikan mesin, karena mengira si bodoh ini Polisi.
ASTAGA!!!
Saya kesal sekali! Kekesalan itu saya limpahkan pada si tukang Bajaj yang terus saya teriakkan suruh menyalakan mesin tapi tidak juga. Entah berkomplot atau tidak mereka. Tapi, saya tidak pernah mau berpikiran seperti itu.
“Sini tas-nya!” Sambil menggerakkan tangan memperlihatkan gagang pisau.
“Ihhh…ngapain? Pergi loe sana!”
“Bang, maju bang! Mau dongggg!!!”
“Mau ngelawan?” Katanya lagi sambil hendak mengeluarkan yang terselip.
Pintu Bajaj saya buka dan saya tendang ke arahnya! Sayang, sekali kurang tinggi pintunya. Jika tidak, akan tepat sekali mengenai biji peler yang pasti langsung pecah!
Tidak lama dia pergi dengan diamdiam. Dan tukang Bajaj tolol ini masih bengong juga, sampai harus diteriakin buat jalan.
TOLOL!!!!
Namun, semuanya adalah pelajaran. Jangan takut untuk menghadapi penodong. Dia pikir hanya perempuan Cinta mungil yang bisa menjadi sasaran empuk. Jangan salah, Pak. Cabe rawit juga kecil., tapi pedesnya bisa buat kuping berdengung jika salah gigit.
Peristiwa ini, membuat saya kembali bersyukur. Sekaligus PERCAYA malaikat pelindung saya luarbiasa. Dan Tuhan masih mau melindungi.
Terimakasih & puji Tuhan
Pada akhirnya saya memang bukan tipe yang JAHAT, seiring dengan selesainya tulisan ini. Keingingan membunuh pun hilang.
Menulis memang merupakan terapi yang sangat luarbiasa.
Semoga semakin banyak orang yang hatihati, bukan takut.
Semoga semakin banyak orang yang bisa menolong, bukan karena ikut campur,
Semoga dunia ini dapat kembali menjadi selaras…
Selama masih ada HARAPAN, hidup masih dapat terus berlanjut. Walau, semua orang sudah bilang TIDAK MUNGKIN. Selama masih ada setitik harapan, akan selalu ada MUKJIZAT terjadi!
YEAH!!!!
Sekarang setiap kali saya lewat dan melihat tempat itu, saya tersenyum.
Tau apa yang tertulis diatas tempat saya menunggu kawan saya tadi?
TOKO HARAPAN
Ya! Toko itu memberi saya harapan. Bahwa akan ada seseorang yang saya kenal dan baik hati menjemput dan menenangkan getaran kekesalan saya atas peristiwa yang baru saja saya alami.
Kemarin, sepulang lembur dari kantor. Saya kembali ditodong. Dekat wilayah rumah saya. Seperti biasa saya tidak takut menghadapi ancaman penodong tolol tersebut. Sopir Bajaj yang bodoh dan penakut juga membuat saya kesal setengah mati. Saya sudah teriakteriak menyuruh dia tetap terus berjalan pada saat motor mepet dan menghentikan Bajaj. Malah dia berhenti dan mematikan mesin, karena mengira si bodoh ini Polisi.
ASTAGA!!!
Saya kesal sekali! Kekesalan itu saya limpahkan pada si tukang Bajaj yang terus saya teriakkan suruh menyalakan mesin tapi tidak juga. Entah berkomplot atau tidak mereka. Tapi, saya tidak pernah mau berpikiran seperti itu.
“Sini tas-nya!” Sambil menggerakkan tangan memperlihatkan gagang pisau.
“Ihhh…ngapain? Pergi loe sana!”
“Bang, maju bang! Mau dongggg!!!”
“Mau ngelawan?” Katanya lagi sambil hendak mengeluarkan yang terselip.
Pintu Bajaj saya buka dan saya tendang ke arahnya! Sayang, sekali kurang tinggi pintunya. Jika tidak, akan tepat sekali mengenai biji peler yang pasti langsung pecah!
Tidak lama dia pergi dengan diamdiam. Dan tukang Bajaj tolol ini masih bengong juga, sampai harus diteriakin buat jalan.
TOLOL!!!!
Namun, semuanya adalah pelajaran. Jangan takut untuk menghadapi penodong. Dia pikir hanya perempuan Cinta mungil yang bisa menjadi sasaran empuk. Jangan salah, Pak. Cabe rawit juga kecil., tapi pedesnya bisa buat kuping berdengung jika salah gigit.
Peristiwa ini, membuat saya kembali bersyukur. Sekaligus PERCAYA malaikat pelindung saya luarbiasa. Dan Tuhan masih mau melindungi.
Terimakasih & puji Tuhan
Pada akhirnya saya memang bukan tipe yang JAHAT, seiring dengan selesainya tulisan ini. Keingingan membunuh pun hilang.
Menulis memang merupakan terapi yang sangat luarbiasa.
Semoga semakin banyak orang yang hatihati, bukan takut.
Semoga semakin banyak orang yang bisa menolong, bukan karena ikut campur,
Semoga dunia ini dapat kembali menjadi selaras…
Selama masih ada HARAPAN, hidup masih dapat terus berlanjut. Walau, semua orang sudah bilang TIDAK MUNGKIN. Selama masih ada setitik harapan, akan selalu ada MUKJIZAT terjadi!
YEAH!!!!





