[JejakkakiKu]
  • Home
    • Submenu
  • About Mei
  • Business
  • Analog Mode
  • Say Hey!
Sial! Sial! Sial! Matt menggerutu sejadinya. Kenapa bisa begitu bodoh ya? Perempuan memang mahkluk menakutkan, jika mereka sudah mulai bertingkah seperti detektif.

Masih tak percaya rasanya bahwa segala hal yang dia sembunyikan dengan baik, akhirnya bisa ketauan. Antara kesal dan malu, Matt berusaha memikirkan soal Astrid. Selama ini memang perempuan itu sudah baik sekali bersikap. Salah satu bukti perempuan bodoh yang mudah dipermainkan. Tapi, Matt tidak menyangka bahwa dia bisa sampai mengorek begitu dalam mengenai rahasia mesumnya.

Kesal sekali rasanya! Kesal karena ketauan, dan juga kesal karena tidak dapat berbuat apaapa lagi mengenai hal itu. Toh, Matt masih merasa bahwa dia tidak rugi sama sekali. Perempuan yang selalu datang padanya, tanpa dia meminta koq. Jadi, apa dia salah jika mencoba mencicipi makanan yang tersedia begitu lezatnya, tanpa harus membayar? Slurp...

Disatu sisi, Matt merasa kasihan pada Astrid. Dia memang diberi status, walau dia tau sekali statusnya itu hanya sementara, dan Matt juga cuma memakainya agar Astrid merasa senang. Dengan memberikan label, dia juga secara tidak langsung mencegah Astrid untuk tidak pergi jauh darinya. Tipikal perempuan ini begitu mudah ditebak. Sekali terkena bius dari Matt maka dia tidak akan pergi lagi. Kecuali jika Matt yang memang menginginkan hal tersebut.

Seru juga sebenarnya, punya mainan. Terdengar begitu jahatkah? Memang, tapi itulah dunia lelaki. Tidak ada yang bisa begitu dalam mengetahuinya, tanpa terjerumus kedalamnya. Jika sudah masuk, maka akan banyak sekali halhal luarbiasa yang ajaib dan tak disangka terkuak.

Keluh. Apa yang harus dilakukan sekarang? Meminta maaf? Percuma rasanya. Semua sudah terjadi. Matt tau Astrid PASTI akan memaafkannya. Hanya saja, rasa percaya itu semakin memudar sekarang. Ingin sekali rasanya, berhenti bermain. Tapi, rasanya masih belum cukup. Masih belum waktunya. Masih seru bermain dan dipuja lelaki lain hebat, bisa memiliki 2 pacar, ditambah selingkuhan dan TTM s. Entah mengapa, rasa itu terkadang benarbenar menyenangkan. Tidak semua lelaki bisa seperti ini, dan beberapa teman merasa bahwa, berteman dengan Matt sepertinya keren!

Lalu, Matt melihat Astrid tampak dari kejauhan, dia berjalan menundukkan kepalanya. Terlihat sendu sekali, pasti dia habis menangis. Keluh. Hmm...susah menghadapi perempuan lagi seperti ini. Ditambah lagi, dia sedang menjadi terdakwa sekarang. Bingung.

“Hai” Matt menghampiri Astrid
“Hei” Sambut Astrid lesu

Matt menggenggam tangan mungil itu. Astrid hanya mampu menatap Matt dengan ragu dan penuh kesedihan.

“Hei, jangan menatapku seperti itu”
“Lalu harus seperti apa?”
“Entahlah” Ujar Matt

“Apakah semua itu benar?” Astrid langsung bertanya. Dia memang tidak pernah basabasi mengenai halhal seperti ini. Salah satu hal yang disukai Matt, sebenarnya.
“Iyah. Semua itu benar”
“Kenapa waktu itu ketika aku bertanya malah menjawab lain. Padahal dengan jelas aku tau, bahwa kamu akan melakukan semua itu!” kata Astrid dengan mata berkacakaca 
“Bagaimana mungkin kamu setega itu sama aku?” Astrid pun mulai terisak “dan kamu juga pernah bilang jika kamar adalah ruang paling pribadi, dan hanya orang yang dekat dan penting saja yang bisa masuk kedalamnya. Berarti dia penting? Dia spesial buat kamu? Gitu?”

Matt bingung menjawab semua pertanyaan, perempuan dihadapannya. Karena sepertinya semua itu memang pernah dia ucapkan. Tapi, entah apa yang merasukinya saat itu hingga bisa membawa perempuan lain ke kamar, ia juga tidak mampu menjawabnya. Mungkin napsu, mungkin biar mudah dan juga biar irit, tidak perlu keluar uang lagi untuk biaya hotel.

“Jawab, Matt!” Astrid mulai tak sabar

“Aku gak tau...”

“Selalu begitu! Setiap kali ditanya selalu jawaban itu yang menjadi tameng. Entah gak tau, atau lupa atau gak ingat.!”

Astrid mulai menangis tersedu. Matt memeluknya erat.

“I'm so sorry for everything” Ia pun mengelus kepala mungil dipelukannya.
“Aku sudah pernah bilang sama kamu. I'm a monster!”

“...and I'm just a fool” tandasnya lagi

“You're indeed a fool...”

Astrid membuatnya bersumpah atas nama jiwa tak berdosa, dari keponakannya yang masih belum terlahir. Bahwa dia tidak akan melakukan hal itu lagi, tanpa melepaskan Astrid terlebih dahulu.

“This is for Katleen, that's her name..” dia mengaitkan jari kelingkingnya.

I am a monster, pikir Matt lagi. Bagaimana mungkin tidak bisa menyayangi perempuan dihadapannya dengan sepenuh hati. Padahal dia begitu tulus mencintai Matt apa adanya. Keluh.

Seandainya saja...
Ia mendengar bunyi telepon genggamnya. Tapi karena sedang tanggung menulis surat elektronik penting, maka dia membiarkannya saja. Hingga berhenti berbunyi. Tidak lama kemudian, dia mendengarnya kembali...

What the...

“Halo” dengan nada tidak suka ia mengangkat, tanpa melihat layar teleponnya.
“Huuu...huuu...nggg...ggg” suara isak tangis terdengar.
“Ehmm...halo?” kemudian baru dia melihat nama yang muncul
“As? Kenapa lagi lo?”

Bukan jawaban yang diterimanya, malah suara tangis yang semakin keras dan sesugukkan.
“As, gini yah! Gue lagi ada email penting. Jadi gak bisa dengerin lo nangis doang. Entar aja telpon lagi klo lo dah bisa ngomong. Okay?! Gue tutup telpon yaahh...mwah!”

Tanpa basabasi Alexis, yang lebih suka dipanggil Alex, pun menutup teleponnya. Sedikit merasa terganggu, tapi kemudian dia kembali menatap layar 17” dihadapannya, dan kembali mengetik.

Sudah hampir sejam yang lalu, Astrid menelponnya. Tapi tidak lagi menghubungi kembali.

Tibatiba terdengar ketukan halus di depan pintu apartemennya. Diintipnya melalui lubang kaca kecil, dan dibukanya.

“Heyyy...” belum selesai dia bicara, tamunya sudah berada dalam pelukannya, dan menangis. Yeap, she's here.

“Udahh...ceeeppp...ceppp” sambil memeluk dan mengusap punggungnya, sesugukkan pun mulai memudar.

“Yuks, masuk dulu” ajaknya, digandengnya Astrid dan diberikannya segelas susu coklat panas. Yang tadi dibuatnya buat diminum sendiri. Semoga bisa sedikit menenangkan.

“Jadi? Ada apa? Klo memang belum bisa cerita, nangis dulu sampe kelar. Gue gak ngerti soalnya klo lo cerita sambil nangis keq tadi itu.”

“Matt...” hanya dengan mengeluarkan satu kalimat itu, mata Alex pun berubah.
“Apalagi sekarang? Apalagi yang dilakukan orang itu buat nyakitin lo ha? Lu emang tolol siy!” si cantik yang terlihat manis dihadapan Astrid tibatiba berubah menjadi nenek sihir bahkan merangkap ibu tiri yang kejam.

“Udah berkalikali gue bilang sama lo. Gak gunaaa, As. Lo cuma nyakitin diri lo sendiri. Gue gak mau lagi tau apa yang dia lakuin tapi lo jangan cengeng keq gini dong!”

Lagilagi Astrid cuma bisa diam menunduk, memang salahnya sendiri. Dari awal dia sudah tau resiko menjalin hubungan dengan Matt, yang notabene pria flamboyan yang tebar pesona selalu.

“Kalo sekarang emang lo kesini, mau minta pendapat gue tentang dia, salah! Salah banged! Gue malah makin gregetan sama lo!”

Sambil memperhatikan Astrid yang duduk dihadaapannya.

“Mau berapa kali lagi sih, As? Gila deh, gue sendiri gak abis pikir sama sekali!”

“Tapi Lex, gue sayang banged sama dia”

“Bullshit! Lu sinting kali yah? Iiiihhh begooo banged siy loo!” sambil menoyor Astrid, ia berjalan ke dapur.

“Lex...” panggil Astrid lagi..

Alex cuma bisa menarik napas panjang. Kembali ia terngiang ucapan salah seorang temannya sewaktu di States. Yang menjadikan dirinya seperti sekarang. Seorang yang cukup bisa diandalkan pada saat semua cara sudah tidak lagi didapat dari teman yang biasanya. Uli, namanya. Memang ada darah Indonesia dari buyutnya, tapi tetap saja setelah beberapa generasi, bahasa Indonesia sudah sama sekali tidak dikenalnya seharihari.

Dia kembali teringat rasa sakit yang ditorehkan pria sialan itu, sekian tahun lalu. Bagaimana dia sama sekali tidak berdaya, lebih baik mati rasanya. Tapi, inilah yang dikatakan oleh Uli, “Human beings are not designed to be monogamous, monoamory. So its fucking bullshit if you're with a man and you expect him to fuck only you. and its fucking bullshit if you tell me you don't wanna fuck some other men. Fucking is not about love its about fucking. its variety. No matter how much you absolutely LOVE spaghetti, every once in a while you want nasi padang or steak or seafood same fucking principle. Bitch can sit in, feel sorry for herself or she can put out and be happy both with him and without him”

Katakatanya memang vulgar sekali terdengar. Tapi, entah mengapa saat itu membangunkan sisi dalam Alex yang tidak pernah dia sangka ada. Sepertinya, itulah saatsaat terakhir dia bertemu dengan Uli, sebelum akhirnya kembali pulang ke tanah air.

“Gini deh...” sambil mengaduk minuman yang dibuatnya tadi, Alex pun keluar dari dapur.
“Sekarang gue tanya apa mau lo sama dia?”
“Pengen disayang aja, gak pengen dia sama yang lain...” ujarnya lagi

Alex pun menarik napas panjang..

“Gini deh, duluuu banged pernah ada temen gue yang bilang, lo gak bisa ngarep klo cowo tuh cuma mau sama lo doank. Dulu gue pernah bilang sama lo juga kan? Soal teori gue tentang klo gue dah nikah gue akan kasih hak veto ke laki gue itu buat cari cw lain?”

Astrid pun mengangguk

“Yang lo bilang gue sinting...?”

Sekali lagi ia pun, mengangguk, kemudian tersenyum.

“Abis siapa lagi yang punya ide segila itu selain lo, Lex?” katanya lagi

“Gue mikir tadinya lo siy, As!” kata Alex sambil tertawa

“Sialan lo, masa gue sih?” katanya ragu

“Dulu lo gak keq gini, As. Ceria, supel, banyak ketawa juga seru!”

Kembali teringat perkenalan mereka di sebuah warnet. Saat itu, sepertinya billing Astrid rusak, jadi tidak berfungsi dengan baik. Sehingga, waktu bayar tidak sesuai dengan yang seharusnya. Tapi, dia dituntut untuk bayar sesuai dengan jam yang dipakai. Disinilah Alex, membelanya.

“Eh mas, klo emang billingnya rusak, benerin! Jangan suruh konsumen tanggung jawab dong!”

Kemudian, langsung menarik Astrid keluar, kemudian mereka tertawa terbahak berdua.

“Alexis, tapi panggil aja Alex” dia mengulurkan tangannya dan menggenggam keras jemari yang disodorkan padanya.
“Astrid, tapi panggil saja As”

Kembali mereka berdua tertawa. Ah, seandainya masa itu terulang kembali.


Astrid menatap nanar layar monitor dihadapannya. Degup jantung berdebar lebih kencang dari biasanya dan mulai tidak beraturan. Demikian juga dengan perasaan yang dirasakannya saat ini, kesal, lega dan sebal. Kesal karena lagilagi Matt menipunya. Lega karena segala mimpi tentang dia dan si binal, terbukti. Sebal karena masih tetap ingin bersamanya hingga sekarang.

Peristiwa yang terjadi dua bulan lalu. Pada saat mereka sedang perang dingin.

Bitch (6/28/2010 8:24:27 AM): Cin, aku mau klarifikasi
Matt (6/28/2010 8:24:36 AM): klarifikasi apa?
Bitch (6/28/2010 8:24:56 AM): hari terakhir kita 4x yah?
Matt (6/28/2010 8:25:02 AM): 4x?
Bitch (6/28/2010 8:25:04 AM): Tol
Matt(6/28/2010 8:25:14 AM): 3x koq
Bitch (6/28/2010 8:25:19 AM): Pas baru sampe
Matt(6/28/2010 8:25:22 AM): di tol, sampe trus subuh
Bitch (6/28/2010 8:25:24 AM): waktu mau bobo
Bitch (6/28/2010 8:25:33 AM): trus mnjlang pagi kan?
Matt (6/28/2010 8:25:40 AM): mau bobo kan ga sampe selesai heheheh

Bagaimana mungkin ada orang setega ini pada pasangannya yah? Jika memang banyak pikiran negatif yang bergumul dalam kepala ini, mungkin itulah tanda bahaya yang diberikan oleh hati sebenarnya. Tapi, terkadang memang susah untuk mau mendengarkan kata hati sendiri.

Matt (6/28/2010 3:14:58 PM): ngomong2 kmu pake pil atau kontrasepsi lain ga sih?
Matt(6/28/2010 3:15:03 PM): aku lupa nanya
Bitch(6/28/2010 3:15:10 PM): Ga pake apa2
Matt (6/28/2010 3:15:18 PM): nanti klo jadi junior gimana?
Matt (6/28/2010 3:15:20 PM): terakhir mens kapan?
Bitch(6/28/2010 3:16:15 PM): Cin, aq nggak tahu cara hitung masa subur
Matt (6/28/2010 3:16:27 PM): hehehehe
Matt(6/28/2010 3:17:57 PM): it’s around 14-20days after your period
Bitch (6/28/2010 3:20:22 PM): Wahhh
Bitch (6/28/2010 3:23:45 PM): pas dong klo gitu?
Matt (6/28/2010 3:24:21 PM): aku lupa nanya
Matt (6/28/2010 3:25:46 PM): main keluarin didalem aja saking enaknya *blush

Dari awal Astrid sudah pernah bilang sama Matt, kalau dia tidak bisa menipunya. Pasti ketauan. Saat itu, Matt pun bilang bahwa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dari Astrid. Mungkin, yang menjadi pemikirannya saat itu, tidak mungkin hubungan ini akhirnya akan mempunyai status yang jelas. Bukan status tempelan yang biasa digunakan. HTS atau TTM, misalnya.

Bukti yang terpampang dihadapannya membuat Astrid terdiam. Tidak mampu berbuat apaapa. Itu sudah terjadi, dan entah mengapa hanya kelegaan yang dirasakan saat ini. Bahwa, memang apa yang dimimpikan begitu jelas terlihat, keduanya bercinta bagaikan binatang didalam mobil mesum itu. Kenyataan kedua yang lebih tidak bisa diterima adalah, bahwa benar Matt pernah mengundang perempuan lain tidur di ranjang cinta mereka. Hal ini lebih menyakitkan dibanding mengetahui tentang pergumulan mereka.

Padahal pertanyaan pun pernah terlontar. Memang Matt selalu menjawab pertanyaan Astrid dengan jawaban tidak langsung. Tidak pernah ada jawaban langsung yang didapat, jika memang menyangkut hubungan antar pribadi mereka. Entah mengapa. Tapi, semakin tidak menjawab langsung. Maka Astrid pun semakin yakin, bahwa memang ada yang disembunyikan oleh pria itu.

Saat ini, Astrid hanya mampu merenung dan kontemplasi kembali. Dia memang sudah tau, pria seperti apa yang dipacarinya. Dan semua pengalamannya dengan kaum perempuan. Tapi, saat dia tidak jujur itu lebih menyakitkan. Memang, tidak akan ada orang yang jujur pada saat ditanya dia selingkuh atau tidak. Namun, mengetahui hal ini, secara tidak langsung juga membuatnya lega. Seperti mengatakan You’re busted, man!

Bodoh memang! Masih mencoba untuk menjalin hubungan dengan pria yang lebih menyukai perempuan yang sudah punya pasangan untuk digoda. Atau lebih menyukai tantangan dengan menggaet perempuan lain lewat forum dunia maya. Hingga sekarang, jika pria berkata tidak bisa mengerti perempuan. Maka, Astrid hingga sekarang pun tidak bisa mengerti dunia pria yang satu itu. Bagaimana mungkin bisa mendapat kepuasan bermain dengan perempuan bayaran?

Padahal si binal yang bermain bersama Matt, adalah cerita dari masa lalu, yang kembali terulang. Tapi, memang dasar keduanya memang harus digaruk, biar gak gatel lagi. Bagaimana mungkin, dia bermain tanpa pelindung sama sekali? Tidak pernahkah terpikir dikepalanya bahwa dia juga bisa menulari penyakit? Perempuan itu jelas sudah punya pria lain, dan Matt juga. Tidakkah dia bisa berpikir akan menulari Astrid juga?

Astrid juga bukan tutup mata dengan kebutuhan ragawi Matt yang satu itu. Tapi, tetap saja, bagaimanapun dia melayani Matt, jika pria sudah bosan. Maka, akan selalu ada perempuan lain dalam hidupnya. Jika, memang ini kesalahan dari Astrid maka Matt juga salah. Karena mereka jarang sekali berkomunikasi. Semua perlu variasi dalam hidup. Tapi, jika memang harus ada perempuan lain. Astrid pun pernah berkata pada Matt, lepaskan dia lebih dahulu dari status pacar. Maka, dengan senang hati dia akan pergi mengganggu hidup Matt.

Entah mengapa, Matt tidak pernah mau berkata seperti itu. Dia, lebih memilih Astrid yang memutuskan hal tersebut. Memang, monster yang licik yang patut diacungi jempol. Banyak teman pria yang salut padanya, dan mau belajar darinya. Mungkin, suatu saat dia bisa membuka kursus membohongi pasangan, dengan berbagai cara…
Sudah sejak lama aku pindah di gedung baru ini, tidak dapat lagi menikmati perempuan senja yang selalu menjadi pelega rasa jenuh harian menjelang sore. Entah dimana dia sekarang. Masihkah dia termangu di boulevard itu setiap senja? Sudah hampir 2 bulan, sejak terakhir kulihat senyum manisnya.

Terus terang aku merindukan sosoknya. Kepulan asap rokok yang dihisapnya, membuatku pernah berharap bisa menjadi rokok-rokok itu. Aku ingin dihisapnya. Hingga lepas jiwa ini dari raga pun aku rela. Entah sejak kapan, rasa ini begitu membuncah. Namun, seiring berjalannya waktu, dan kesibukan yang menjerat. Aku terlupa. Pada sosoknya, pada senyumnya dan juga pada rasa yang ada dalam hatiku.

Pada senja kali ini, aku kembali teringat akan rasa waktu itu. Ada apakah gerangan? Bahagiakah dirimu, perempuan? Terus terang detik ini aku merindukan tawa manismu. Pernahkah kamu merasakan rasa rindu yang tak terperikan? Aku hanyalah Pria Angin yang hanya bisa berlalu dihadapanmu. Maaf, jika saat itu aku pernah memberikan asa pada sosokmu. Walau hanya sesaat, aku pun ingin sekali merengkuhmu dan tidak kulepaskan lagi. Even only for one night with you. I’m sure its going to be an unforgettable moment.

Sekarang di tempat ini, sepi. Tidak ada lagi pemandangan seperti waktu lalu. Dinding kaca tempatku melamunkan dirimu dan menatapmu dikejauhan sudah digantikan dengan tembok dinding yang dingin. Sedingin angin buatan yang tertiup mesin pendingin. Tapi, tahukah kau? Sedingin apapun hawa yang tercipta, tak mampu kalahkan dingin malam alami yang tercipta, setelah sore itu kita bertemu. Malam itu kota ini diguyur hujan dengan lebat. Guntur meraung dan kilat berteriak bergema di seluruh jagat raya.

Ternyata hujan itu adalah pertanda. Karena esok hari aku mendengar kabar bahwa kantor ini akan dipindahkan ke gedung yang baru. Maaf, perempuan senja. Jika masih ada sumur di ladang tandus, maka kita PASTI akan bertemu kembali. Jangan lupakan aku, karena hingga saat ini sosokmu tetap terpatri dalam memoriku. Hangat genggaman tanganmu, senyum manis yang tersungging.

Ahhh! Aku merindukanmu. Sial!

Malam ini, hujan kembali mengguyur. Membuatku melamun akan dirimu. Teringat kembali akan sore pertemuan kita. Kepulan asap rokok tidak mampu mengusir ingatan akanmu. Tidak untuk malam ini, sepertinya. Bayanganmu hadir begitu lekat dalam benakku. Sepertinya aku kembali meretas dalam dingin malam. Hanya bayanganmu dan ingatan akan suara tawamu, menggema dan menusuk hingga sanubari terdalam. Rasa itu lebih dasyat dibandingkan udara dingin yang terbawa angin malam.

‘Maaf, Pak. Sudah mau saya kunci’ seorang juru kunci datang mengganggu lamunanku.

‘Oh, silakan duluan, Pak. Saya punya kunci. Masih ada yang harus saya kerjakan’ ujarku padanya.

‘Baiklah. Selamat malam, Pak!’

‘Malam’ balasku

Kembali kutatap meja kerjaku dan layar monitor dihadapanku. Tiba-tiba keinginan untuk tetap dikantor ini lenyap. Hilang bersama berlalunya sang juru kunci tadi. Ingin rasanya memanggilnya kembali. tapi, sudahlah. Sepertinya dia lebih butuh pulang untuk istirahat ditengah hujan badai ini, dibandingkan diriku yang tiba-tiba lelah karena hadirnya ingatan akan seorang perempuan di suatu senja yang indah.

***

Jangan berhenti mencintaiku,
Meski mentari berhenti bersinar,
Jangan berubah sedikit pun,

Di dalam cintamu, kutemukan bahagia..

- Jangan Berhenti Mencintaiku - Titi Dj -


We meet ev'ry day at the same cafe
Six-thirty I know she'll be there
Holding hands, making all kinds of plans
While the jukebox plays our favorite song...*

Lagu itu sepertinya pas dengan suasana hati saat ini. Seperti biasa aku hanya mampu memandangnya dari tempatku berdiri, sambil menghisap rokok jatah hari ini. Memang pas rasanya, melihat seorang perempuan dari kejauhan sedang tertawa, entah dengan siapa. Aku pun tak mengenal siapa dirinya, apalagi siapa yang sedang diajaknya bicara. Aku hanya mengagumi sosoknya, dari kejauhan.

Setiap senja di posisi tempat duduk yang sama di boulevard itu, aku pasti bisa menemukannya. Aku tidak pernah punya niatan untuk mengetahui tentang siapa dia, menjadi seorang pengagum rahasia untuk sosok yang juga misterius sepertinya mempunyai sensasi tersendiri. Mungkin aku harus mulai memberi julukan pada sosoknya.

Sekarang, dikejauhan batas cakrawala aku mulai melihat lembayung senja bergayut. Indah. Aku bersyukur masih bisa menikmati senja yang terkadang memang terlihat begitu indah, atau hanya bergantung pada imaji dan suasana hatiku? Aku tak tau itu. Yang kutau pasti, bahwa aku selalu bisa menikmati senja kapanpun, terutama senja di boulevard. Sekarang aku sudah mendapatkan julukan bagi perempuan itu, namanya perempuan senja.

Ahh...begitu senang hatiku. Mendapatkan nama itu saja membuat hatiku berdesir. Kembali kutengok bangku itu. Dia sudah hampir selesai, terlihat berjalan kembali.

Dalam hati kuberkata, 'Sampai jumpa esok, perempuan senja'

Lamatlamat terdengar suara adzan berkumandang dikejauhan, ternyata memang senja sudah hampir digantikan oleh malam. Kembali kulihat agenda malam ini, ternyata memang harus rapat. Tapi, kali ini aku tidak akan mengeluh, karena aku sudah 'bertemu' dengannya.

Sepertinya malam ini akan lebih cepat berlalu.

***

Sudah cukup lama aku merasa, ada seseorang yang suka memperhatikanku. Tapi, entah dimana. Setiap kali aku duduk disini, perasaan itu selalu muncul. Tidak. Tidak menakutkan. Hanya saja seperti angin berdesir dan membisikkan sesuatu yang tak dapat kutangkap dengan telingaku. Namun, hatiku selalu berdenyut aneh. Selalu, saat senja mulai menampakkan semburat indahnya.

Kadang aku menatap gedung tinggi berkaca dihadapanku. Jauh tinggi menjulang keatas, dan kemilau senja selalu memberi pantulan cahaya. Silau. Tentu saja mata telanjangku ini tak mampu menembus kacakaca tebal gedung itu. Tapi, tetap saja leherku otomatis selalu melihat keatas sana. Sepertinya ada sesuatu dibalik kilau cahaya senja yang terpantul. Akh, sudahlah!

'Kenapa, Bu?'

Tibatiba ada suara mengusik lamunanku.

'Oh hei!' Aku tersenyum

'Gak. Gak apa koq. Hanya saja sore ini matahari masih terang sekali. Darimana kau?'

'Iseng beli rokok tadi, trus kulihat kau disini seperti sedang bingung sambil melihat gedung itu' Katanya lagi.

Kembali aku tersenyum, memandangi temanku itu.

'Tapi, gak terlihat seperti orang gila kan?' Timpalku, sambil tertawa.

Dia juga ikut tertawa. Untuk terakhir kalinya, aku kembali menoleh ke arah gedung itu, dan berlalu. Sudah waktunya pulang ke peraduan malam.

Hari ini, kembali aku duduk di boulevard sambil membaca sebuah surat yang dulu pernah ku tuliskan untuk seseorang dari masa lalu. Entah mengapa aku merasa pas sekali untuk membacanya pada senja hari ini.

Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi, entah apapun itu, semoga menjadi kejutan yang menyenangkan.

Sayang,
Sepertinya sudah lama sekali tak kutorehkan tinta biru pada lembar putih nan harum yang selalu menjadi perantara hati kita bicara. Kali ini kubuka kembali lembaran itu dan kupertaruhkan hatiku didalamnya.

Tahukah kau? Hujan datang kali ini membasahi kampung tak bertuan, aku selalu merindukan datangnya hujan…
Lirih suara deraiannya selalu bisa membuatku terbuai dalam awangawang.
Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apakah kau merinduku?

Tidak ada lagi yang dapat mengungkapkan segala rasa tercipta, saat hujan datang…Aku pernah mengatakannya padamu, hujan dapat menggantikan hati yang gundah, seperti derainya membasuh bumi yang kering.

Senja masih tetap akan hadir walau terbasuh badai dari langit, jangan kau benci hujan hanya karena tidak dapat bertemu senja hari ini, karena kau sendiri pernah mengatakan jika senja selalu dapat kau nikmati, kapan pun.

…Dan terpesona karenanya…

Penuh rasa tak terkatakan,
Senja

Ku lipat surat itu, pada saat semburat senja tertutup oleh bayangan, ku angkat kepala dan sosok itu berdiri disana…

‘Boleh saya duduk disini?’

Aku terpana...

***
=========

Jika ada yang mau membantu meneruskan, monggo...:)
Saya akan mencoba meramunya kembali, pada saat imajinasi kembali datang.

Sudah lama aku termenung di sisi jalan. Di kejauhan terdengar suara terompet kapal di pelabuhan dan decit burung-burung manyar. Kembali aku menarik napas panjang, sambil melayangkan pikiran.

‘Aku harus berhenti disini’

Ucapmu dengan datar dan tatapan penuh kebohongan. Lupakah kau bahwa mata adalah jendela jiwamu? Kau sendiri yang dulu mengatakan itu padaku, sekarang kau melakukan tatapan itu dihadapanku?

‘Kenapa?’

Tanyaku dengan santai

‘Karena aku sudah tidak mampu merasakan lagi yang harus kurasakan’

‘Apakah itu?’

‘Kau tahulah!’

Ujarnya dengan nada sedikit kesal

‘Bagaimana bisa ku tahu? Jika kau sendiri tidak mau mengatakannya padaku? Aku tak bisa membaca pikiran dan menebak bahasa tubuhmu’

Dia mulai menarik napas panjang, dan memegang dahinya. Dia selalu seperti itu, pada saat tidak bisa mengungkapkan kekesalan atau kesedihan yang dirasakannya.

Aku tahu itu.

Tapi aku tak mau dia berhenti tanpa alasan apapun yang bisa masuk akal dan hatiku, biarkan dia berkutat dengan segala apa yang dia rasakan saat ini, agar aku bisa merasakan kelegaan dengan alasan yang akan dia ungkapkan, nanti.

Aku masih menatapnya, dan dia semakin gelisah karena tidak dapat menemukan kata dan kalimat yang dapat dilontarkan oleh mulut yang semakin menghitam karena terlalu banyak menghisap nikotin. Walau banyak orang bilang ciuman dapat membantu menghilangkannya. Aku tidak yakin orang seperti dia akan percaya hal seperti itu.

Kembali aku tersenyum sendiri mengingatnya. Saat kami masih sering bercanda dan bicara hingga ayam berkokok, menandakan saatnya kami harus berpulang ke peraduan masing-masing.

Angin sepoi-sepoi bertiup, membuatku menyipitkan mata, takut debudebu nakal yang mulai mengusik dan masuk mata. Kaki ini mulai terasa pegal karena berdiri dari tadi, lalu kucoba untuk naik keatas pembatas jalan yang terbuat dari beton ini, dan duduk diatasnya.

Sepertinya angin semakin suka ditemani saat aku naik diatas beton ini, senja mulai terasa dingin. Tapi, karena matahari masih memberikan sisa kehangatannya, maka aku tidak peduli dengan angin dingin yang bertiup.

Kembali kupejamkan mata menikmati suasana menjelang sore itu, ditepi jalan.

‘Lalu?’

Tidak ada jawaban

‘Ya udah, klo misalnya gak bisa ngasih alasan dari ucapanmu tadi itu, pelanpelan aja kasih tau, atau kasih petunjuk, biar kita maen tanya-jawab ajah, gimana?’

Aku berkata sambil bercanda dihadapannya. Dia pasti kesal, karena dia berpikir aku tidak serius. Karena sudah cukup sering menghadapi dia yang seperti ini, maka aku santai saja.

‘Hmm…ya udah. Dari awal sudah kukatakan bukan? Bahwa aku tidak bisa menjadi sosok yang kau inginkan? Tapi kau bilang manusia bisa belajar dan sekarang aku merasa kalau aku teruskan maka aku tidak akan menjadi diriku sendiri’

‘Oh gitu?’

‘Yah! And you know damn right, what’s wrong with me! Why can you just say so?’

‘Hmm…bukannya aku gak mo bilang, tapi aku mau kamu punya niat untuk berubah dari diri kamu sendiri, bukan karna keharusan dan memenuhi keinginanku. Aku gak pernah minta kamu menjadi knight in shining armor, yang harus memperlakukanku seperti layaknya tuan-tuan puteri kerajaan koq. Tidak seperti itu. And you know damn right what I want from you. didn’t I told you many times already?’

Kubalas gelisahnya dengan ocehan panjang.
Kembali dia menghela napas.

‘Iya juga sih’

Menyetujui ocehanku

‘Sekarang maunya gimana? Mau beneran berhenti?’ Udahan?’

Matanya nanar menatapku, tatapan terlama yang pernah dilakukannya. Penuh sayang, penuh cinta dan seandainya mata itu adalah kilasan film, dapat kulihat apa yang sedang ada dalam pikirannya dan terlukis di matanya.

Aku tersenyum melihatnya, memang pedih pada saat berdiri di ujung pilihan yang mengundang kesedihan dan perpisahan. Aku hanya mampu menunggu.

Tibatiba dia berdiri dan menarik tanganku, badanku tak mampu menahan tarikan tersebut dan terjerembab dalam pelukannya.

‘Berpikir untuk berhenti sebentar saja rasanya seperti tadi. Hatiku serasa di himpit oleh tembok-tembok tak terlihat, sesak sekali. Mari kita teruskan! Apapun yang ada dihadapan kita kali ini akan diterobos dengan segala keyakinan dan kompromi. Aku menyayangimu’

Seandainya kalimat tadi bisa terekam dan bisa diputar ulang untuknya.

Aku kembali tersenyum mengingatnya, lalu…

‘DOR!’

Sebuah suara keras dengan tangan yang keras mendorongku, membuatku hampir terjatuh dan dimakan batu karang dibawah pinggir jalan itu.

‘Argghh…..!’

Aku menggerung ketika melihatnya. Lalu, dia terbahak melihat pucatnya wajahku.
Membantuku turun dari tepi jalan. Kemudian berlari tunggang langgang karena sudah kusiapkan kerikil yang kupungut tadi agar dapat kulemparkan padanya. Upah karena sudah membangunkanku dari lamunan di senja yang indah.


=========
Terimakasih, Cinta atas pilihanmu,
Terimakasih atas cintamu,
Aku bahagia tak terkira berada disisimu…
Postingan Lama Beranda

Search this blog

ABOUT AUTHOR

This is Meita’s website and you are in a right place to get to know a little bit more about her. She is a dreamer who likes doing digital marketing and been blogging since 2003. She also loves watching TV shows, and movies. Also, passionate about the world. Graduated from the University of Indonesia majoring in Cultural Tourism, taught her a lot about how great Indonesia – country where she is from – in cultural level. Still curious about her? Find out more here ;)

come find me

Visitors

FEATURED POST

THE WORLD NOWADAYS

Nowadays, we do live in the world where sincere thank yous are rare. Where sorries and apologies are extinct. Let alone, caring for the sa...

THE MOMENTS

  • ▼  2018 (11)
    • ▼  September (1)
      • THE WORLD NOWADAYS
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2017 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2015 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2014 (10)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (8)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (5)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2011 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2010 (16)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2009 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2008 (70)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (9)
    • ►  Mei (14)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2007 (108)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (22)
    • ►  Oktober (12)
    • ►  September (11)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (9)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (9)
  • ►  2006 (130)
    • ►  Desember (11)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (14)
    • ►  September (12)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (21)
    • ►  April (14)
    • ►  Maret (7)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2005 (102)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (8)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  September (8)
    • ►  Agustus (12)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (12)
    • ►  Mei (20)
    • ►  April (16)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2004 (82)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (18)
    • ►  Februari (16)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2003 (22)
    • ►  Desember (14)
    • ►  November (7)
    • ►  Agustus (1)

FOLLOW ME @ MEITAWIN

ABOUT ME

Hanya seorang perempuan mungil yang masih terus berusaha meraih mimpi terbaik yang ditawarkan dunia. Lalu, berusaha juga untuk membangun dunia yang lebih baik dari sekarang. Entah bagaimana caranya, tetapi harus mulai dari memperbaiki diri sendiri. Menjadi manusia yang LEBIH baik hingga mempunyai rasa BANGGA terhadap diri sendiri, hingga perasaan tersebut lebur dan akan tetap tinggal tak lekang oleh waktu. Semoga [JEJAKKAKIKU] akan menjadi bagian terindah dalam kehidupan ini. Karena yang tertinggal hanya akan menghilang suatu saat nanti, namun jejak-jejak itu akan tetap membekas dibeberapa tempat yang pernah disinggahi. Meski tak terlihat dengan kasat mata.

POPULAR POSTS

  • LAMUNAN SENJA
    Sudah lama aku termenung di sisi jalan. Di kejauhan terdengar suara terompet kapal di pelabuhan dan decit burung-burung manyar. Kembali...
  • BOOK REVIEW
    Masih ada 2 buku yang tertunda, untuk dibaca. Saat ini saya masih belum mendapatkan versi buku aslinya. Hanya bisa mendapatkan dari buku ele...
  • THE KARTINI DAY
    BUNGA Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku. Semalam untuk pertama kalinya kami b...

Copyright © 2016 [JejakkakiKu]. Created by Meita Winarto